home webmail download sitemap
ProfilKegiatanPeraturan & ArtikelKeanggotaanBuletin & NewsletterInternasional
 
   Menu Utama
Home
Rubrik
Contact Us
Download
Daftar Anggota GAPMMI 2014
Organisasi GAPMMI

   Rubrik
Berita KADIN Indonesia
Berita BPOM
Berita PERDAGANGAN
Berita PERINDUSTRIAN
Berita PERTANIAN
Bisnis & Keuangan
Berita Codex Indonesia

   Artikel Terakhir
Anggota GAPMMI berpartisipasi dalam Fancy Food
Partisipasi dan Kepemimpinan dalam Kegiatan Codex
Indonesia Transport Supply Chain & Logistics (ITSCL)
Seminar dan Pameran Kopi Nusantara
Sektor swasta China ASEAN mengantisipasi berlakunya AEC dan RCEP

   Social Networking
Find us on

   Advertising


Buku Direktori GAPMMI 2012/2013

   Statistik Situs
  Visitor : 764295 visitors
  Hits : 6079796 hits
  Online : 30 users

   


Outlook Industry Makanan Minuman 2011: Tantangan Kenaikan Harga Bahan Baku Pangan & Peningkatan Daya
Senin, 17 Januari 11 - oleh : admin

JAKARTA - Catatan kinerja sektor industri makanan dan minuman Indonesia di tahun 2010
masih menunjukkan pertumbuhan walaupun diiringi bayang-bayang penurunan tingkat daya saing dibanding dengan produk mamin impor.

Industri Makanan, Minuman dan Tembakau masih menjadi cabang yang memberikan kontribusi terbesar
terhadap pertumbuhan Industri Nasional. Data dari Departemen Perindustrian menunjukkan bahwa di tahun 2010 Industri Mamin dan Tembakau memberikan kontribusi sebesar 34,35% atas pertumbuhan industri nasional non-migas yang sampai Triwulan III 2010 mencapai 4,69% (y-o-y basis). (Siaran Pers Deperin 22 Des 2010)

Data GAPMMI juga menunjukkan trend pertumbuhan industri makanan dan minuman dalam negeri yang cukup baik. Volume penjualan ditahun 2007 mencapai Rp 383 Trilyun, di tahun 2008 mencapai Rp. 505 Trilyun, di tahun 2009 mencapai Rp. 555 Trilyun dan ekspektasi di tahun 2010 adalah untuk mencapai Rp. 605 Trilyun. Ironisnya, meskipun industri makanan dan minuman merupakan salah satu kontributor terbesar dalam pertumbuhan, masih banyak faktor termasuk kebijakan pemerintah yang masih belum sepenuhnya mendukung perkembangan industri makanan dan minuman itu sendiri. Sementara ancaman dari produk mamin impor terus bertambah sejalan dengan integrasi perekonomian Indonesia dengan perekonomian regional dan global.

Total nilai impor produk mamin periode Januari November 2010 menunjukkan peningkatan sebesar 22,95% dibanding periode yang sama di tahun 2009, dengan negara asal impor terbesar dari Malaysia, Cina, Thailand, Singapura dan Amerika Serikat.

Beberapa hal yang menjadi catatan GAPMMI terkait dengan tantangan bagi industri makanan dan minuman dalam tahun 2011 dan kedepannya antara lain adalah:

  • Belum sinerginya peraturan perpajakan dan retribusi terkait dengan dukungan terhadap
    pertumbuhan industri makanan dan minuman. Dengan masuknya Indonesia menjadi bagian integral perekonomian regional dan dunia melalui berbagai perjanjian bilateral dan multilateral seperti FTA dan EPA, maka produk-produk jadi makanan dan minuman dari negara-negara mitra hanya dikenakan bea masuk yang relatif kecil yaitu antara 0% 5%. Namun disisi lain, kesulitan dihadapi oleh industri makanan dan minuman dalam negeri dalam mendapatkan bahan baku produksinya, baik karena
    adanya bea masuk bahan baku yang tinggi seperti gula, adanya kenaikan bea masuk bahan baku plastik seperti polyethylene (PE) dan polypropiline (PP) yang naik menjadi 5% di awal tahun 2011 ini, maupun kebijakan pemerintah yang terus membatasi impor bahan baku seperti impor gula rafinasi. (Permenkeu No.241/PMK.011/2010)

  • Tingginya harga bahan baku dan kemasan. Potensi naiknya harga bahan baku seperti terigu, gula, garam, minyak goreng, jagung, kedelai,susu & komoditas lainnya serta harga kemasan secara signifikan di tahun 2011 dapat mempengaruhi kenaikan harga produk jadi sebesar 10% - 15%.

  • Kebijakan energi nasional, khususnya terkait Tarif Dasar Listrik dan kesediaan pasokan gas sampai saat ini masih belum berpihak pada industri dalam negeri berakibat pada mahalnya TDL. Pemanfaatan gas bumi untuk dalam negeri : 53%, dan ekspor : 47%. Sedangkan penggunaan Gas pada Industri Makanan dan Minuman adalah sebesar 7%. Data menunjukkan bahwa kebutuhan gas untuk industri mencapai 801 MMSCFD sementara pemerintah hanya mengalokasi sebesar 583 MMSCFD (Kontan, 10 Januari 2011).

  • Keterbatasan infrastruktur jalan (jumlah dan kwalitas), pelabuhan, jaringan listrik atau pipa gas menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi para pelaku industri di Indonesia. Tidak seimbangnya pertumbuhan infrastruktur jalan dengan pertumbuhan kendaraan menyebabkan kemacetan di seluruh daerah yang berakibat menyebabkan distribusi menjadi terhambat dan menimbulkan biaya tinggi. Hal ini mengakibatkan tingginya biaya tranportasi di Indonesia yang diperparah dengan terus adanya
    pungutan liar. Sebagai contoh, untuk mengangkut barang dari Warsawa (Polandia) ke Hamburg
    (Jerman) dengan jarak 750 km, biayanya adalah dari ongkos pengiriman barang dari Makassar ke
    Enrekang di Sulawesi yang hanya berjarak 240 km. Dari hasil penelitian Olken dan Barron,2007
    ditemukan bahwa truk yang menempuh rute Banda Aceh Medan harus mengeluarkan USD 40 sekali
    jalan, atau sekitar 13% dari total biaya perjalanan, untuk suap dan uang keamanan. Data World Bank
    2010 menempatkan Indonesia di rangking 75 Logistic Performance Index dibawah Vietnam (53),
    Filipina (44), Thailand (35), Malaysia (29). Bahkan ranking Indonesia masih dibawah Uganda (66) dan Senegal (58).

  • Masih Tingginya Suku Bunga Kredit / Pinjaman di Indonesia. Hasil Survey kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan Bank Indonesia menunjukkan bahwa dari total 2479 usaha yang di survey, 44% menyatakan mereka kesulitan memperoleh kredit karena tingkat suku bunga yang terlalu tinggi. Infllasi tahun 2010 mencapai 6.96%, melebihi target Pemerintah yang sebesar 5,3%. Tingginya inflasi ini dapat mendorong kenaikan suku bunga.

    Sehubungan dengan hal-hal diatas GAPMMI, mengajak semua pemangku kepentingan industri makanan dan minuman dalam negeri termasuk Pemerintah untuk bersama-sama melakukan sinergi guna membangun industri makanan dan minuman dalam negeri yang tangguh dan berdaya saing tinggi. Dua poin besar yang harus dikerjakan di tahun 2011 dan kedepannya adalah:

    1. Promosi produk industri makanan dan minuman dalam negeri. Dasar rekomendasi adalah masih
    banyak muncul misleading information terhadap produk-produk industri makanan dan minuman
    Indonesia serta masih tingginya impor produk makanan dan minuman dari luar negeri, guna
    memperkuat citra produk makanan dan minuman Indonesia, di era pasar bebas. Salah satu cara yang
    dapat dilakukan adalah dengan ikut serta dalam program Aku Cinta Produk Indonesia dan program
    100% cinta Indonesia.

    2. Reformasi kebijakan dan regulasi di Indonesia terkait industri makanan dan minuman. Sejak era otonomi daerah, banyak ijin-ijin yang harus dimiliki oleh suatu industri untuk menjalankan
    produksinya, membuat inefisiensi biaya dan inefiktifitas pengurusan, juga kebijakan perpajakan dan retribusi daerah yang mengakibatkan ekonomi biaya tinggi. Di tahun 2011, diharapkan ada upaya khusus untuk menyederhanakan pajak, retribusi daerah dan perpajakan. Pemerintah diharapkan juga membangun kebijakan komprehensif yang berpihak kepada Peningkatan Nilai Tambah Produk Industri Indonesia (termasuk harmonisasi tariff, kemudahan impor bahan baku dan barang modal dibandingkan
    barang jadi)

    Sumber: GAPMMI, 17 Januari 2011

      kirim ke teman |   versi cetak


    Tidak ada komentar tentang artikel ini.

    Formulir Komentar | Aturan >>

    Nama
    Email
    Judul Komentar
    Komentar

     
  •    
       Pencarian

    cari di  
     

       Jajak Pendapat
    Bagaimana pendapat Anda tampilan website GAPMMI?

    Bagus
    Cukup
    Biasa
    Kurang


       Kalender

       Ketua Umum


    Ir. Adhi Siswaja Lukman

       Quote of the day
    "Food probably has a very great influence on the condition of men. Wine exercises a more visible influence, food does it more slowly but perhaps just as surely. Who knows if a well-prepared soup was not responsible for the pneumatic pump or a poor one for a war?"
    Georg C. Lichtenberg (1742-1799) German scientist, satirist and anglophile.

       Event

    Opexcon 14


    Indonesia Transport, Supply Chain and Logistics 2014 (ITSCL)


    Trade Expo Indonesia (TEI), 8-12 October 2014


    Myanmar Consumer Summit 2014


    Program 100% Cinta Indonesia

       Media Partner

    Food Review Indonesia

       Afiliasi

    PIPIMM

    Food Industry Asia

     

    Copyright © 2010 Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia.
    All Rights Reserved.